Pemadaman Listrik di Sumatera Utara, apakah akan terus terjadi?

Jawabannya:

Seharusnya tidak harus terjadi lagi.

Pemerintah terlalu konsentrasi dg Pembangkit Listrik Tenaga Uap yg butuh bahan bakar fosil yg banyak.  Jenis bahan bakar ini masih impor, kita belum mandiri. Kalo ada gejolak harga minyak atau batubara  di pasar, PLN juga akan goyang, bisnis gak menguntungkan apalagi terlalu banyak subsidi.  Belum lagi kalo ada korupsi di tengah jalan, menambah runyam masalah.

Padahal, potensi sumber panasbumi di Sumatra Utara sangat banyak. Lapangan Sarulla itu berpotensi 330 MW (data dari Gunderson et al., 2000). Lapangan Sibayak sudah terinstal 2 MW dan di rencanakan untuk 20 MW pada block area yg baru (data Sudarman et al., 2000; Fauzi et al., 2000). Di daerah Pusukbukit (barat Toba) juga terindikasi adanya lapangan panabumi yg bersuhu tinggi (Suari & Fauzi, 1991, Hochstein & Sudarman, 1993).

Menurut saya, pemerintah lokal dan pusat  juga harus konsen tuk maksimalkan lapangan2 panasbumi tersebut, karena ini energi lokal tidak perlu impor. Jangan lupa, jangan di korupsi juga nantinya. Potensi panasbumi ini bisa memasok sumber listrik dari tenaga fosil, dan mungkin akan menyelamatkan Sumut dari pemadaman2 listrik selanjutnya.

Ref :

Fauzi, A., Bahri, S., Akuanbatin, H., 2000. Geothermal Development in Indonesia: An overview of Industry Status and Future Growth. In : Proceeding of World Geothermal Congress,  Japan,pp 1109-1114.

Gunderson, R., Ganefianto, N., Riedel, K., Azwar, L, S., Suleiman, S., 2000. Exploration results in the Sarulla Block, North Sumatra, Indonesia. In: Proceeding of World Geothermal Congress,  Japan.

Hochstein, S., Sudarman, S., 1993. Geothermal Resources of Sumatra. Geothermics 22, 181-200.

Suari, S., Fauzi, A., 1991. Geothermal Prospects in Sumatera. In: Proceedings of the 20th Annual convention of the Indonesian Petroleum Assoication, pp. 363-371.

Sudarman, S., Suriti, Pudyastuti, K, Aspiyo, S., 2000. Geothermal Development Progress in Indonesia: Country Update 1995-2000. In : Proceeding of World Geothermal Congress, Japan, pp.455-460.

nasi bungkus ibu-ku

Di akhir tahun 2003, aku memutuskan untuk liburan ke tanah air ditengah-tengah studiku di Perth. Motivasiku adalah ingin bertemu dg Ibu-ku, dan juga sang Ayah yg telah kehilangan adik kandungnya (Bu Lek-ku) 6 bulan sebelumnya. Berita kepulanganku, aku rahasiakan. Dan kedatanganku dg tiba-tiba di dapur Ibu-ku, ketika beliau sedang memasak, membuat kegembiraan luar biasa buat beliau. Ibuku tak percaya, kalo aku datang, sambil mengelus rambutku yg gondrong tak terurus, beliau berujar : gimana kabarmu? kok kelihatan kurus? ini rambut ‘kudu’ di cukur ya…sambil memberikan senyum khas-nya. Gimana sekolahmu, bisa semua kan, ujianmu berhasil semua? Kamu ini anak pinter, tapi semangat-mu jangan pernah kendur, karena akan menyebabkan kepintaranmu tidak akan muncul….sambil goreng ikan2 kecil kesukaanku.

Hari demi hari selama 3 minggu liburan yg sangat berharga itu, dialog-ku dengan ibu selalu di dapur. Sambil sesekali minta ajar memasak, ibu-ku memantau kejiwaanku dengan pertanyaan yg sederhana. Termasuk, apa rencanaku kalo pulang nanti, setelah sekolahku rampung? Tak lupa saling sharing bagaimana mengarahkan sekolah adik2ku: enaknya adik2mu itu di sekolahakan dg jurusan apa2, ibu pingin ada yg kerja di Bank. Hehehe…polos banget Ibu-ku itu kan🙂. Itulah harapan orang tua, doa orang tua, semua orang tua berhak mempunyai cita2 terhadap apa yg mereka pernah lahirkan.  Kisah2 liburan itu selalu menghiasi semangat2ku kembali dikala aku lemah dan harus bangkit. Dan ketika saatnya harus pulang lagi ke Perth, berat sakali aku meninggalkan kedua orangtua yg tiada bernilai ini, aku peluk mereka dengan erat. Lambaian tanganku ketika perpisahan menuju bandara Ngurah Rai hanya satu tangan, karena tangan yg satu bertugas memegang tas kresek warna putih berisi bekal nasi bungkus masakan ibu-ku.’ Le, ini kamu bawa buat bekal kamu makan siang di Bandara nanti..:). Ibu, kalo aku boleh buka rahasia itu sekarang, ‘nasi bungkus itu aku makan di depan KFC sana, aku iming2i londo2 itu dg makanan khas-mu itu’.

Ibu, ibu, ibu selalu begitu, sederhana. Ibu, kini anak2mu semua sudah lulus sekolahnya, terutama sekolah kehidupan yg kami timba darimu. Rasa terima kasihpun tak akan cukup buatmu. Meski sudah tiap saat kami mendoakan buat ibu dan bapak. Kini, tiba waktunya kami mendoakanmu dengan amat sangat, buat kesehatanmu.  Kami semua pernah berada di rahim-mu. Semoga semuanya sehat ya Ibu. Kami akan selalu berada di depan, buatmu.

#buat ibu-ku yg akan menjalani operasi miom, minggu depan.

Sungkemku buat Ibu,

Postdam, 20 Feb. 2014.

-thole-

Belgia

Amelia membawa sepeda kuning kesayangannya. Melintas negara Jerman ke Belgia…:). Kota Belgia, kalo aku bilang, kota serba mini.  Gedung2 dg ukuran serba minimalis, ukuran ruangpun juga demikian. Persis di Iceland. Banyak galeri seni di sekitar kota tua, menampilkan seni kontemporer. Warganya sangat majemuk, selain berasal dari dratan Eropa, juga berasal dari Afrika. Mereka bisa bahasa Perancis, Belanda, dan Inggris, semuanya ramah…:). Aku dengar Dubes RI untuk Belgia, punya bakat seni yg bagus. Dia bahkan ikut terjun langsung mempromosikan wisata Indonesia ke orang2 Eropa di Belgia dg cara ikut serta sebagai penari topeng.

Sud Bruxels Midi,

8 Feb 2014

 

ketidaksederhanaan ekonomi global

Saya kurang mengerti dg alur pikir para begawan ekonomi kita yg merupakan barisan terdepan yg mengenalkan laku ekonomi dunia yg semakin global. Era komunikasi yg semakin menghilangkan batas negara dan batas ideologi, membuktikan prediksi itu, dan bahkan menjadi katalisator yang sangat super.

Well, mungkin perlu di ingat bahwa negara2 maju yg menganut sistem pemerintahan dan ideologi kebangsaan demokrasi, tidak semuanya melepaskan nafas-nafas denyut ekonominya dg terlalu bebas. Rem-rem di pasang sana sini antara lain : subsidi yg berlapis yg didanai oleh keuntungan jangka panjang dari investasi2 pada sektor yg mutakhir, proporsi pajak yg flexible (red: progressive), pengetatan kredit usaha berdasarkan evaluasi jaminan riil yg sangat super ketat, hukum yg berlapis dan tak pandang bulu, unsur-unsur kemanusiaan juga di kedepankan, koordinasi dg para petinggi yg harus selalu ON.

Kita harus belajar cepat bro…

#case study naikknya harga gas tabung 12 kg.

komplain seorang RW van Bemmelen (1949) yg sudah ‘terbayarkan’

Dalam publikasi yg berjudul ‘Sumatra : Geology, Resources and Tectonic Evolution’, Edited by AJ Barber, MJ Crow, JS Milsom; Geological Society Memoar No,31, 2005, menyebutkan bahwa :

“The publication of the IPA (Indonesia Petroleeum Association) Proceedings has resolved van Bemmelen’s (1949) complaint of the pre-World War II situation, in which large amounts of geological data, accummulated by the oil companies, remained unpublished for commercial reasons, and were not available for the compilation of regional geological syntheses.”

Dalam harmoni yg sama, beberapa waktu lalu saya meng-akses wesbite IAGI, dan sekarang perkembangannya sangat pesat, Abstract Proceeding dari PIT dalam beberapa tahun belakangan sudah terpublish secara online. Hal ini sangat membantu bagi pelajar, mahasiswa, dan peneliti ilmu kebumian Indonesia untuk mempelajari hasil-hasil penelitian imuwan2nya sendiri yg bertemakan persepektif geologi Indonesia. Good Job IAGI !

Mungkin RW van Bemmelen (yg telah meninggal thn 1983) akan berterima kasih juga kepada IAGI, jika beliau tahu perkembangan terkini  ‘geosciences knowledge and publihsed papers’ di Indonesia yg semakin pesat.

Berlin, 1 January 2014

membawa internet ke tempat tidur

gak terpikir, bisa membawa internet sambil tiduran, di jaman sekarang….

dulu, males banget hanya untuk beli koran di warung majalah,dan kemalasan itupun bertumpuk, ketika semakin tertinggal dg berita2 yg berseliweran, yg nyempil di pojok koran. Dan terlihat begitu pandainya mereka yg membaca pertama kali…:)

biar saja lah, tertinggal, toh kemalasanku sangat masuk akal, tidak praktisnya harus ke warung tuk membeli koran atau majalah, atao  harus deal abonement terlebih dahulu tuk berlangganan rutin….

dan lagi2, kedatangan teknologi canggih ini, selalu tepat waktu…ketika aku membutuhkannya…

thanks Steve Jobs…:D