Kunyah demi kunyah aku nikmati buka-ku. Sambel botol ABC selalu membuatku merem-merep penak..krn disini gak ada cabe sepedes cabe kampungku, yo sing ono ae tak embat…ABC…selalu nomer satu sejak dulu !!!
Telah abis suapanku, teka teki keanehan di temaram yg padat ini belum juga terjawab…Aku masih belum mau menyalakan lampu. Aku selimurkan diri tuk makan keripik kentang dan minum segelas air kran. Ah aku mau wudlu dulu tuk magrib..Dalam perjalanan wudhu itu sedikit terkuak memori apa yg ada di tengah gelapnya kamarku, dibawah jendela tadi. Aku teringat sebuah desa bersahaja, Desa Bedewang..
Desa kakek dan nenek-ku dari pihak ibu, di lereng gunung raung sebelah tenggara. Berada di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Cuilan-cuilan memori 28-30 tahun lalu ini entah kenapa satu demi satu merangkak tuk membuat kotak puzzle ini menjadi semi lengkap.., yaitu : remang, sunyi, sejuk,penuh perjuangan. Memori itu tentang ini :
Mungkin aku masih 5-6 tahun waktu itu, tahun 1979-80, seingatku aku belum sekolah. Sering beranjak ke desa ini dg Ayah dan Ibuku, agak sulit menjangkau desa ini, 3 kali angkot (waktu itu disebut Oplet, seperti Taxi si Mandra dalam seri Si Doel). Starter oplet ini blas gak otomatis alias manual blas. Sang sopir harus memutar pedal laras panjang yg berada di depan mobil. Dan itupun harus di putar berakali-kali, baru mesin akan hidup dg kepulan asap yg tebal..buzzzzzzz…
Dari Desa Singonegaran, tempat Ayah Ibuku tinggal di Banyuwangi, jalur oplet Bedewang itu menuju ke Kecamatan Rogojampi lebih dahulu. Dari sini, haru pindah angkot menuju Desa Wiyayu. Biasanya orang tua kami belanja sandang dulu di Rogojampi,salah satu kecamatan transit antar Kec Genteng (bagian selatan dan Ibu kota Kab). Karena di Bedewang, jarang orang jualan sandang, yang ada cuman barang2 pangan, iya.. desa tani. Dari Wiyayu nyambung ke Bedewang, kalo sedang beruntung kami tidak perlu oper oplet lagi sampai tujuan. Aku lupa berapa jam total perjalan waktu itu. Kondisi oplet sangat meriah, sumpek sumpekan di dalam, di atas oplet di gunakan sebagai bagasi bebas tanpa batas (baca : batasnya cuman sampai langit, krn barang2 bawaan penumpang di taruh disitu membumbung tinggi….).
Beruntung rumah kakek nenek kami ada dipinggir jalan protokol desa dan di lalui oplet, jadi sekali berhenti, kita akan tepat di rumah sang kakek Nur. Halaman depan rumah sang kakek, ada pelataran plester (halaman yg di perkeras). Halaman ini sangat umum dipunyai warga waktu itu (sekarang udah jarang) untuk menjemur padi. Sebelah sudut sana, ada tong-tong (drum) minyak tanah. Aku lupa buat apa tong2 itu dulu,apa dijual ato buat konsumsi sendiri. Disudut halaman yg lain, ada tumpukan kayu bakar. Aku selalu menghindari tumpukan2 itu kalo bermain, karena banyak ular yg tersembunyi..
Udara desa ini sangat sejuk, air juga lepas polusi.Ketika pagi, masih banyak kabut dg ketinggian setengah meter dari tanah,merangkak mengalir menuju tekanan yg lebih rendah Warga yag sedang menuju masjid untuk subuh yg diterpa akibut ini pun pasti menggigil. Ah tepatnya kami yg tidak tinggal disitu akan mengigil, warga desa asli udah terbiasa..
Yang paling aku suka adalah ketika waktu mandi. Kami mandi di sungai…wuh..wuh..Keterampilan renangku dari sungai ini. Biasanya aku ikutin anak2 sebayaku (yang kini aku lupa nama mereka), tuk cari lokasi-lokasi sungai yg dalam dan memunginkan kita bisa lompat akrobat dari atas (alias terjun).Biasanya diatas batu cadas (*) kami siap melompat. Dan tak jarang kami sengaja bawa sarung, melompat sambil bawa mengibarkan sarung, membayangkan sebagai anggota pasukan terjun payung.
Tiba waktu malam, bergegas tuk magrib (seperti aku menulis ini) di mushola kecil disitu . Temaram panjang siap menjelang tanpa listrik. Hanya seonggok gaspon (lampu petromak) atau telempek (lampu minyak tanah). Diiring suara jangkrik, kami menuju ke dapur, wuh…lorong menuju dapur itu sangat gelap, melewati ruang makan dan gudang pupuk sang kakek. Aku tidak di perobolehkan membantu angkat2 makanan dari dapur menuju ruang makan, karena badanku masih kecil dan khawatir jalannya menghantam tembok dan tumpukan2 pupuk , dan aku sukanya lari2 juga sih (nggerabus), jadi mereka khawatir. Gelap dan sunyi, cuman suara gelontangan (bunyi aduan antar piring dan sendok alumunium waktu makan) yg menghiasi ruang makan itu. Bayang2 gelas, wadah nasi, dan kami sendiripun selalu berubah mengikuti selera angin yg meniup telempek…Sunyi dan sunyi, suap demi suap, dari lauk yang satu ke lauk yang lain…nikmat rasanya…
Setelah itu baru kami ke rumah induk, tuk menunggu isya. Duduk di depan TV National yg power-i oleh akki (accu). Dah gak sabar tuk sholat isya’ tuk segera nonton TV setelahnya.. Rumah induk juga begitu, sunyi, temaram sedang (karna gaspon lebih terang dari telempek dapur dan ruang makan tadi). Acara TV-pun masih menoton (jika dibandingkan sekarang), ada drama (skrg sinetron), aneka ria safari (semacam Top Ten MTV), galarama (acara musik), Dunia Dalam Berita (jam 21.00), dsb dsb. Semua informasi jarang yg update seketika, biasanya delay 2 – 7 hari (yg terahir ini biasanya berita internasional). Bisa dibayingin, enaknya jaman sekarang, internet, apalagi bisa OL dibawah jendela kayak gini…wuih….
Salam Kangen Desa Indonesia,
Loewendhardtdamm, Berlin
(*) Catatan :
batu cadas ini belakangan (25 tahun kemudian) aku deskripsisebagai batuan volkanik jenis pyroclastic flow (laharic breccia),mungkin sumbernya dari Erupsi Gunung Raung Kuno. Di singkapan batuanlain di Desa Wiyayu, sekitar 4 km selatan Bedewang, dibelakang rumah Bu De Kulsum Alm (kakak Ibuku), terdapat juga batuan yg sama dg komposisi yg basaltic, dg grain shape yg semi rounded, udah cukup jauh dari pusat erupsi dan waktu itu masih fase constructive eruption.
Trus terang umurnya aku gak tahu.
By Moch Nukman · Tuesday, August 24, 2010