Ayo kita perbaiki ini….

OSPEK, atau orientasi mahasiswa baru ada baiknya tetap dilaksanakan, tapi ada beberapa catatan BESAR :

Kekerasan dalam bentuk kata-kata dan hukuman fisik, tidak akan merubah sikap mahasiswa baru menjadi lebih dewasa. Untuk beberapa mahasiswa mungkin akan merubah, tapi apa iya untuk sebagian besar mahasiswa yang lain hal ini akan membuat lebih baik dalam perubahan sikap.

Setiap mahasiswa atau siswa punya latar belakang psikologi yang berbeda. Ada yang sensitif, introvert; ada juga yang kebal dan ekstrovert.

Oke lah kecerdasan mereka hamper satu level, tapi bagaimana mengolah kada emosi peserta yang tidak bisa di ukur dengan angka-angka (nilai). Bagaiamana jadinya kalo ada peserta yang ternyata punya jiwa pendendam…??? Apa kekerasan merupakan jawaban untuk membuat mereka dewasa??

Apalagi jenis tugas-tugas dalam OSPEK itu yang sebagian besar di buat-buat, terkesan pembodohan, dan dilaksanakan dengan sikap superior terhadap para junior. Misi pengenalan atau orientasi kampus, akan menjadi misi pengenalan kekerasan dan superior dini pada calon pemimpin bangsa ini.

Pengenalan atau orientasi kampus sebaiknya dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan yang tulus, saling berbagi dengan cara yang elegan, bermartabat, memuat konten kesopanan, memuat rasa kebersamaan tanpa ada unsur paksakan apalagi hukuman. Kharisma senior tidak serta merta di ujudkan dengan memberi kesan dengan ‚seserem apa gue‘, itu kuno, udah ndeso banget, itu budaya kolonial, harus di tinggalkan segera. Sekarang adalah budaya Android, iPhone, iPad, BBM …Bung…Kreativitas yang dibutuhkan ! Bukan gagah-gagahan di depan para junior….

Kapan lagi kita harus memutus budaya kekerasan, kalo tidak mulai sekarang, mulai dari keluarga, mulai dari orientasi masuk SMP, orientasi masuk SMA, dan OSPEK PT….masuk kantor baru dsb….

Gak terasa loh, pengaruh OSPEK dari berbagai jenjang itu sedikit banyak mempengaruhi kita sekarang ini. Terutama kalo ketemu orang baru yang baru bergabung dengan kita. Coba deh di inget-inget….

pelangi itu selalu menghiasi kami …

Malam tadi, semoga menjadi malam yang bersejarah buat putriku, karena dia sudah bisa sholat mandiri dg gaya anak2nya…

Syukur kami pada Yang Kuasa, ikhtiar kami (1,5 tahun) dengan selalu mengucapkan bacaan sholat dengan ‘jaher’ (bersuara lebih banter), ternyata membuat putriku mengenal, terbiasa dan ahirnya bisa menirukan tanpa harus duduk manis untuk sengaja menghapalkan. Kehawatiran kami sangat beralasan, karena disekolah putriku tidak ada pelajaran agama. Alhamdulliah, sekarang dia bisa sholat mandiri.

Dan doa kami terus berlanjut, semoga putri kami dapat dua ilmu itu dengan seimbang..

Amin.

Keywords : membiasakan bacaan sholat pada anak.

Bedewang….

Tulisan ini, aku buat di bawah jendela kamar yg temaram, menjelang senja…Hanya sedikit cahaya yg masuk kamar, jendela kubiarkan terbuka..abis magrib.Buka puasaku aku nikmati di jendela ini..Tentu kalian bertanya, emang lampunya gak dinyalakan..Iya memang betul, sengaja gak aku nyalakan…ada yg aku rasakan disuasana seperti ini…agak aneh.., akau gak tahu pasti.

Kunyah demi kunyah aku nikmati buka-ku. Sambel botol ABC selalu membuatku merem-merep penak..krn disini gak ada cabe sepedes cabe kampungku, yo sing ono ae tak embat…ABC…selalu nomer satu sejak dulu !!!

Telah abis suapanku, teka teki keanehan di temaram yg padat ini belum juga terjawab…Aku masih belum mau menyalakan lampu.  Aku selimurkan diri tuk makan keripik kentang dan minum segelas air kran. Ah aku mau wudlu dulu tuk magrib..Dalam perjalanan wudhu itu sedikit terkuak memori apa yg ada di tengah gelapnya kamarku, dibawah jendela tadi. Aku teringat sebuah desa bersahaja, Desa Bedewang..

Desa kakek dan nenek-ku dari pihak ibu, di lereng gunung raung sebelah tenggara. Berada di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Cuilan-cuilan memori 28-30 tahun lalu ini entah kenapa satu demi satu merangkak tuk membuat kotak puzzle ini menjadi semi lengkap.., yaitu : remang, sunyi, sejuk,penuh perjuangan. Memori itu tentang ini :

Mungkin aku masih 5-6 tahun waktu itu, tahun 1979-80, seingatku aku belum sekolah. Sering beranjak ke desa ini dg Ayah dan Ibuku, agak sulit menjangkau desa ini, 3 kali angkot (waktu itu disebut Oplet, seperti Taxi si Mandra dalam seri Si Doel). Starter oplet ini  blas gak otomatis alias manual blas. Sang sopir harus memutar pedal laras panjang yg berada di depan mobil. Dan itupun harus di putar berakali-kali, baru mesin akan hidup dg kepulan asap yg tebal..buzzzzzzz…

Dari Desa Singonegaran, tempat Ayah Ibuku tinggal di Banyuwangi, jalur oplet Bedewang itu menuju ke Kecamatan Rogojampi lebih dahulu. Dari sini, haru pindah angkot menuju Desa Wiyayu. Biasanya orang tua kami belanja sandang dulu di Rogojampi,salah satu kecamatan transit antar Kec Genteng (bagian selatan  dan Ibu kota Kab). Karena di Bedewang, jarang orang jualan sandang, yang ada cuman barang2 pangan, iya.. desa tani. Dari Wiyayu nyambung ke Bedewang, kalo sedang beruntung kami tidak perlu oper oplet lagi sampai tujuan. Aku lupa berapa jam total perjalan waktu itu. Kondisi oplet sangat meriah, sumpek sumpekan di dalam, di atas oplet di gunakan sebagai bagasi bebas tanpa batas (baca : batasnya cuman sampai langit, krn barang2 bawaan penumpang di taruh disitu membumbung tinggi….).

Beruntung rumah kakek nenek kami ada dipinggir jalan protokol desa dan di lalui oplet, jadi sekali berhenti, kita akan tepat di rumah sang kakek Nur. Halaman depan rumah sang kakek, ada pelataran plester (halaman yg di perkeras). Halaman ini sangat umum dipunyai warga waktu itu (sekarang udah jarang) untuk menjemur padi. Sebelah sudut sana, ada tong-tong (drum) minyak tanah. Aku lupa buat apa tong2 itu dulu,apa dijual ato buat konsumsi sendiri. Disudut halaman yg lain, ada tumpukan kayu bakar. Aku selalu menghindari tumpukan2 itu kalo bermain, karena banyak ular yg tersembunyi..

Udara desa ini sangat sejuk, air juga lepas polusi.Ketika pagi, masih banyak kabut dg ketinggian setengah meter dari tanah,merangkak mengalir menuju tekanan yg lebih rendah Warga yag sedang menuju masjid untuk subuh yg diterpa akibut ini pun pasti menggigil. Ah tepatnya kami yg tidak tinggal disitu akan mengigil, warga desa asli udah terbiasa..

Yang paling aku suka adalah ketika waktu mandi. Kami mandi di sungai…wuh..wuh..Keterampilan renangku dari sungai ini. Biasanya aku ikutin anak2 sebayaku (yang kini aku lupa nama mereka), tuk cari lokasi-lokasi sungai yg dalam dan memunginkan kita bisa lompat akrobat dari atas (alias terjun).Biasanya diatas batu cadas (*) kami siap melompat. Dan tak jarang kami sengaja bawa sarung, melompat sambil bawa mengibarkan sarung, membayangkan sebagai anggota pasukan terjun payung.

Tiba waktu malam, bergegas tuk magrib (seperti aku menulis ini) di mushola kecil disitu . Temaram panjang siap menjelang tanpa listrik. Hanya seonggok gaspon (lampu petromak) atau telempek (lampu minyak tanah). Diiring suara jangkrik, kami menuju ke dapur, wuh…lorong menuju dapur itu sangat gelap, melewati ruang makan dan gudang pupuk sang kakek. Aku tidak di perobolehkan membantu angkat2 makanan dari dapur menuju ruang makan, karena badanku masih kecil dan khawatir jalannya menghantam tembok dan tumpukan2 pupuk , dan aku sukanya lari2 juga sih (nggerabus), jadi mereka khawatir. Gelap dan sunyi, cuman suara gelontangan (bunyi aduan antar piring dan sendok alumunium waktu makan) yg menghiasi ruang makan itu. Bayang2 gelas, wadah nasi, dan kami sendiripun selalu berubah mengikuti selera angin yg meniup telempek…Sunyi dan sunyi, suap demi suap, dari lauk yang satu ke lauk yang lain…nikmat rasanya…

Setelah itu baru kami ke rumah induk, tuk menunggu isya. Duduk di depan TV National yg power-i oleh akki (accu). Dah gak sabar tuk sholat isya’ tuk segera nonton TV setelahnya.. Rumah induk juga begitu, sunyi, temaram sedang (karna gaspon lebih terang dari telempek dapur dan ruang makan tadi). Acara TV-pun masih menoton (jika dibandingkan sekarang), ada drama (skrg sinetron), aneka ria safari (semacam Top Ten MTV), galarama (acara musik), Dunia Dalam Berita (jam 21.00), dsb dsb. Semua informasi jarang yg update seketika, biasanya delay 2 – 7 hari (yg terahir ini biasanya berita internasional). Bisa dibayingin, enaknya jaman sekarang, internet, apalagi bisa OL dibawah jendela kayak gini…wuih….

Salam Kangen Desa Indonesia,

Loewendhardtdamm, Berlin

(*) Catatan :

batu cadas ini belakangan (25 tahun kemudian) aku deskripsisebagai batuan volkanik jenis pyroclastic flow (laharic breccia),mungkin sumbernya dari Erupsi Gunung Raung Kuno. Di singkapan batuanlain di Desa Wiyayu, sekitar 4 km selatan Bedewang, dibelakang rumah Bu De Kulsum Alm (kakak Ibuku), terdapat juga batuan yg sama dg komposisi yg basaltic, dg grain shape yg semi rounded, udah cukup jauh dari pusat erupsi dan waktu itu masih fase constructive eruption.

Trus terang umurnya aku gak tahu.

By Moch Nukman · Tuesday, August 24, 2010

Jenius didikan alam…

Kesekian kalinya aku nonton Laskar Pelangi arahan Garin Nugroho.Tak lekang zaman film ini.Karakter pemain yg begitu kuat.Pesan moral yg begitu memikat.Kali ini kesan itu semakin merasuk,air mata emosi tak bisa membohongi galaunya pikiranku,untuk segera membangkitkan mereka yg 9 itu untuk mengikuti jejak sang tokoh.Pesan pesan itu semakin mewarnai rantauku disini,bersama keluarga kecilku.Terima kasih kedua orang tuaku,yg tiada pernah sambil lalu berdoa dan berkeyakinan bahwa aku suatu saat sampai diujung dunia sini.Dan ucapan ini tiada pernah cukup…#Catatan nonton bareng dg Sasmeita Barliani dan Amelia di Padepokan kami, Berlin.

Perbanyak Sholat Sunnah yukk…

Ya Allah, berikanlah ke istiqomahan pada Ayah, dan Ibu-ku….Semoga masih di beri umur panjang untuk melihat kami kami menjadi seperti yang mereka cita-cita kan….

Aku lihat dan perhatikan sejak kecil, entah berapa sholat sunnah yang Ayahku lakukan setiap kali habis sholat wajib….

Entah berapa kali cobaan berat yang menimpa Ayahku, dilaluinya dengan lapang dada tanpa ada tekanan batin dan lahir pada beliau…Mungkin kita smua perlu menirunya…Selalu memperbanyak sholat sunnah…

Amin…

Membaca dg menghayati sang pengarang

Membaca sambil terlebih dahulu menghayati latar belakang pengarang,juga dg sesekali melihat foto pengarang, akan memudahkan kita mengerti apa yg dia tulis…

aku sudah membuktikannya membaca 3 text book 1 bulan terakhir ini…Alhamdulillah…

 

latihan badminton dan banyak membaca

seperti yg dulu pernah aku lakukan,
bermain badminton butuh latihan fisik yg extra keras,
untuk bisa menguasai bola di segala penjuru lapangan,
aku harus pandai melatih kaki untuk menjangkau setiap sudut lapangan,
dan kembali pada posisi tengah untuk bersiap melaju ke pojok yg lain,
dg hitungan sepersekian detik sebelum bola jatuh…
semuanya harus dilatih untuk mengasah kecepatan otot,
malas latihan seharipun, refleks akan turun, dan gerakan kita kurang cepat …

demikian juga untuk membuat inovasi, mempelajari ilmu alam dan ilmu yg lainnya..
kita harus menguasai konsep-konsep dasar kemana arah tujuan bagian ilmu yg kita pelajari,
harus sering latihan untuk memahami teori2 dan applikasinya yg sudah di teliti sebelumnya (ibaratnya menguasai setiap sudut lapangan badminton tadi).
berlatih terus dg membaca dan berpikir tiap hari, supaya refleks kita itu akan cepat mencari jalan keluar ketika muncul persoalan2 yg ada..
kalo teori yg ada ternyata tidak mengakomodasi permasalahan, mungkin kita perlu momodifikasi-nya…
inovasi barupun muncul…
keaslian itupun akan tersingkap…

Amelia, Puzzle, dan Teori Plate Tektonik

Berlin: Montag, 12.12.2011
Pagi ini seperti biasa, kami bangun pagi dan berkemas kemas untuk memulai kegiatan…

Aku ke Potsdam, istriku bersiap mau kursus bahasa Jerman dan Amelia masih ingin bermain sebelum mandi untuk ke KITA (Taman Kanak-Kanak Jerman)….

Bermain dan bermain, seusia Amel (5.5 tahun) wajib dimaksimalkan untuk bermain, mengenal dunia dg cara pikir Amel, penuh lucu, lugu, dan serba kartun.

Tak ada waktu buat Amel untuk sedih, merenung sejenak waktu, untuk apa dia hidup, kenapa dia harus bermain….
Kadang2 kami berpikir, apa didikan kita selama ini buat Amel sudah bagus ato melenceng, kurang ini dan itu? Duh, hal itu selalu keluar dalam lubuk hatiku dan membuat diskusi2 dg istriku selalu hangat di tengah `sunyi ´ -nya metropoltian Berlin dari orang tua dan sodara2 yg ada di Indo.
Bagaimana masa depan dia nanti, minatnya apa dia? Sedang aku tidak ingin dia menjadi seorang geolog nanti, tapi buku-buku kami yg berserakan di tengah tempat bermain Amel di rumah tak luput dari jamahannya. Aku yakin suatu waktu ketika aku lengah dia membuka—buka buku2 itu. Dan aku juga kadang2 menjelaskan ketika dia menanyakan gambar2 batu dan fenomena alam di buku2 berwarna itu.

Maksud hati mengenalkan Amel, betapa jauhnya jarak Jerman dari Indonesia. Kemudian suatu hari kami belikan peta dunia (3 bulan lalu) dalam bentuk taplak meja (bahan dari karet, lembaran) dg ukuran yang sesuai dg meja bermain Amel. Disitu ada kartun2 binatang2 kesukaan Amel yg terdistribusi di mana hewan itu hidup di belahan bumi ini. Dan tanpa sengaja, Amel menunjuk bahwa bentuk batas ` topografi´ benua Afrika bagian barat mirip dengan bentuk batas ´topografi´ benua Amerika sebelah timur, dan pasti akan klop kalo digeser, itu seperti puzzle mainan….

Betapa kagetnya aku, karena apa yg dia tunjukkan adalah sebuah teori plate tektonik tentang pergeseran lempeng bumi, dicetuskan oleh ilmuwan-ilmuwan ilmu bumi diawal tahun 1920-an dan baru di terima dunia setelah banyak bukti terungkap di akhir tahun 1960-an. Dan sejak itu, orang mencari minyak, gas, mineral, menjelaskan bencana gempa dg lebih systematis dan pola yg konsisten sampai sekarang. Dan jelas, aku tidak pernah menjelaskan teori itu untuk seorang Amelia sebelumnya.

Mungkin kita perlu berpikir seperti kartun, bermain puzzle, dan dengan senang hati tuk mempelajari bidang kita, karena disitu mungkin ada ide2 yg segar untuk memahami alam dg lebih mudah…

Ya Allah, semoga kami di beri jalan yg benar untuk mendidik anak2 kami…Amin.

http://earthquake.usgs.gov/research/modeling/puzzle.php

lebih liberal daripada asal usul liberal

mungkin diperlukan link and match yg lebih konkrit, berdasarkan angka riil di pasar,

kapan pasar akan butuh pemuda-pemudi ber-skill tinggi, berapa yg akan dibutuhkan,

keahlian detail lengkap apa saja yg diharapkan…??? kontrak jelas antara sekolah dan industri yg butuh tenaga kerja…

jika tidak, kasihan sekali mereka yg sekolah mati2an, ternyata harus banting setir dari kahlian yg seharusnya ketika lulus…tanpa rencana tanpa kata-kata…

kalo penguasa menganjurkan untuk berkarya mandiri, bukan dengan cara tidak membuat link and match yg tidak terukur, anjuran berkarya mandiri hanya jargon angin lalu…hanya menyemangati semntara mereka2 yg luka dan korban penguasa sendiri…

kalo penguasa menganjurkan berkarya mandiri buat pemuda-pemudinya, sebaiknya diciptakan sejak awal: kemudahan mengambil modal, kemudahan memasarkan produk uasaha dan jasa,ketrampilan yg sudah baku sejak dari bangku sekolah, jumlah lulusan yg terukur dan sebanding dg yg di butuhkan di pasar dst…bukan hanya kecelakaan jadi pengusaha mandiri ketika menyerah tidak dapat berkerja sesuai bidangn yg ditekuni disekolah…

kesalahan majemuk, para mentri hanya boneka-boneka kekuasaabn, dapur mereka sendiri belum menegepul, jiwa mereka masih belum legowo dan tiada pernah besar untuk kepentingan warga…

mungkin kita lebih liberal daripada negara yg pertama kali mengumandangkan dan menganut liberal…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.